Jumat, 19 September 2014

makalah strategi dan analisis investasi modal




MAKALAH
”STRATEGI DAN ANALISIS INVESTASI MODAL”

MATA KULIAH
MANAJEMEN BIAYA


Disusun oleh :
1.      Pawit Kurniasih           7311412067
2.      Dita Siti Mulyani         7311412072
3.      Farikhaturrohmah       7311412083
4.      Umi Fasilatur R           7311412087
5.      Dwi Wahyuningsih      7311412091
6.      Evi Noviasari               7311412093



FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
 


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik, hidayah serta inayahnya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyusun sebuah makalah ini  sebagai tugas dari mata kuliah Manajemen Biaya yang berjudul “Strategi dan Analisis Investasi Modal ”. Solawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada tauladan serta junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah ke jaman yang terang benderang pada saat ini.
            Tugas makalah  ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari teman-teman serta para pembimbing yang telah memberikan arahan untuk perbaikan makalah ini. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. Kami menyadari bahwa tulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, memiliki banyak kekurangan dan membutuhkan perbaikan, sehingga kritik dan saran sangat kami butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan semua pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah  ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk seluruh mahasiswa Unnes pada  khusunya dan seluruh pembaca makalah ini pada umumnya.


                                                                                                Semarang, 23  Mei 2014



Tim Penulis
ii

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan ...................................................................................................................... 1
1.3 Rumusan Masalah .................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 3
2.1 Strategi dan Analisis Pembelanjaan Modal ............................................................. 3
2.2 Peran Akuntansi dalam Proses Penganggaran Modal ....................................           4
2.3 Identifikasi Data Arus Kas Relevan untuk Analisis Pembelanjaan Modal ............. 7
2.4 Arus Kas Terdiskonto Model Keputusan Penganggaran Modal ............................. 8
2.5 Ketidakpastian dan Proses Penganggaran Modal .................................................... 12
2.6 Model Keputusan Penganggaran Modal Lainnya ................................................... 14
BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 18
3.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 18
3.2 Saran ........................................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 19










iii
 
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
 Pengelolaan laporan keuangan telah mengalami kemajuan yang akuntabel dan transparan dalam semua aspek transaksi keuangan perusahaan. Anggaran belanja khususnya belanja modal merupakan hal yang sangat penting dalam penataan anggaran perusahaan. Pada umumnya perusahaan mencurahkan sejumlah besar modal untuk sebuah proyek investasi yang diharapkan memberikan manfaat untuk masa depan dalam beberapa tahun. Melalui investasi modal yang direncanakan dengan baik, badan usaha dapat mengembalikan profitabilitas, mendapatkan kembali atau memperluas pangsa pasar, merespons perubahan iklim bisnis, mengurangi biaya, meningkatkan kualitas, dan memperkuat proses strategis bisnis di seluruh mata rantai nilai mereka. Perusahaan dapat mengamankan keunggulan kompetitifnya dengan mengusahakan strategi biaya rendah (yaitu biaya-kepemimpinan) atau strategi diferensiasi produk. Selain itu perusahaan juga berkemungkinan mencurahakan bagian yang lebih besar dari anggaran modal investasi untuk penelitian, pembangunan, dan kegiatan promosi produk. Namun pada dasarnya keputusan investasi modal harus mendukung landasan strategis perusahaan. Oleh karena itu perlu dipelajari strategi dan analisis investasi modal mulai dari peran strategis analisis biaya modal hingga pertimbangan-pertimbangan mutakhir dalam pengambilan keputusan investasi modal.

1.2  TUJUAN
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Mempelajari strategi dan analisis investasi modal.
2.      Memahami peran strategis analisis biaya modal dalam penganggaran modal perusahaan.
3.      Mempelajari ketidakpastian yang mungkin terjadi dalam proses penganggaran modal.
4.      Memahami peran akuntansi dalam proses penganggaran modal.
5.     
1
Mendiskusikan model-model yang dapat diterapkan dalam keputusan penganggaran modal.
1.3 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Bagaimana strategi dan analisis pembelanjaan modal?
2.      Bagaimana peran akuntansi dalam proses penganggaran modal?
3.      Apa saja data arus kas yang relevan untuk analisis pembelanjaan modal?
4.      Bagaimana penerapan model arus kas terdiskonto sebagai model keputusan penganggaran modal?
5.      Apa saja ketidakpastian yang mungkin terjadi pada proses penganggaran modal?
6.      Apa saja model keputusan yang ada dalam penganggaran modal?
7.      Bagaimana isu perilaku yang terkait dalam proses penganggaran modal?

















2
 
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1  STRATEGI PERUSAHAAN DAN ANALISIS MODAL-INVESTASI

Penganggaran modal (capital budgeting) adalah proses mengidentifikasi, mengevaluasi, memilih, dan mengendalikan investasi modal. Terdapat dua tipe perusahaan, yaitu perusahaan yang memilih untuk membangun dan perusahaan yang memilih untuk mengahsilkan.
Sebuah perusahaan yang memilih untuk membangun sering di hadapkan pada banyak ketidakpastian, seperti penggunaan teknologi yang sedang berkembang, lingkungan dengan tingkat perubahan yang cepat, dll. Pengendalian pembelanjaan modal di lingkungan ini biasanya kurang formal, yaitu lebih banyak menggunakan data nonfinansial, dan memiliki sifat yang lebih subyektif. Hal ini dikarenakan ketidakpastian tersebut memerlukan penggunaan perspektif jangka panjang, penyisihan dalam periode pengembalian jangka panjang (pemulihan biaya investasi modal), dan penggunaan tingkat diskonto yang relative rendah, sehingga harus mendapat persetujuan manajer tingkat atas.
 Sementara perusahaan yang memilih untuk “menghasilkan”  adalah  perusahaan yang matang atau yang berkompetisi di pasar yang matang (misalnya, yang siap menghadapi perubahan, dll). Praktik-pratik penganggaran modal pada perusahaan ini cenderung formal dan sebagian data pengambilan keputusan investasi dalam situasi ini cenderung dapat diperhitungkan serta bersifat finansial. Berdasarkan kebutuhan, jangka waktu laba atas investasi modal dalam konteks ini harus pendek dan “tingkat diskonto” harus relatif tinggi (setidaknya sama besar dengan modal perusahaan), sehingga bisa disetujui oleh manajer-manajer perusahaan ditingkat yang relatif rendah.

2.1.1        Pengaruh pengeluaran modal pada penggerak biaya strategi

3
Pembelanjaan modal sangat penting bagi perusahaan karena dapat memengaruhi penggerak biaya struktural maupun eksekusional. Penggerak biaya struktural merupakan faktor yang berhubungan dengan keputusan strategis perusahaan, misalnya teknologi, skala, kompleksitas lini produk, ruang lingkup integrasi vertikal, atau pengalaman. Dengan demikian, analisis investasi modal yang lengkap harus mencakup dampak dari investasi pada penggerak biaya struktual perusahaan. Sementara Penggerak biaya eksekusional mempengaruhi posisi biaya perusahaan dan kemampuannya untuk bekerja dalam struktual ekonomi yang dipilihnya. Biaya ini mencakup antara lain sebagai berikut :
a.       Keterlibatan tenaga kerja (manajemen partisipatif- participative management).
b.      Komitmen tenaga kerja untuk perbaikan berkelanjutan.
c.       Kepatuhan terhadap konsep manajemen mutu total (total quality management – TQM).
d.      Pemanfaatan kapasitas efektif.
e.       Efisiensi aliran/layout produksi.
f.       Efektivitas desain produk.
g.      Eksploitasi hubungan dengan pemasok dan pelanggan diseluruh rantai nilai.

2.2  PERAN AKUNTASI DALAM PROSES PENGANGGARAN MODAL

Adanya akuntansi tentu akan menambah nilai terhadap proses penganggaran modal. Peran akuntasi dalam proses penganggaran modal  antara lain :
a.      Keterkaitan dengan Anggaran Induk
Akuntansi memainkan peran koordinasi dan peran kepemimpinan  dalam desain MACS (management accounting and control system). Artinya, akuntansi memberikan nilai tambah dengan memadu pengembangan dan penggunaan perencanaan dan sistem kendali yangb komprehensif, termasuk proses penggunaan modal efektif. Sebagai komponen dari anggaran induk, anggaran modal perusahaan dipakai untuk tujuan pengendalian strategis maupun tujuan manajemen.
b.      Keterkaitan dengan Strategi dan Kartu Skor Berimbang
4
Gagasan kartu skor berimbang (balanced scorecard-BSC) sebagai elemen penting dari sistem kendali strategi (strategic control system) perusahaan merupakan serangkaian hubungan terkait (yaitu sebab-akibat) pada empat perspektif kinerja secara luas : pembelajaran dan pertumbuhan, pelanggan, proses bisnis, dan keuangan. Didalam empat dimensi ini, tercakup pula unsur campuran finansial dan non finansial, internal dan eksternal, dan indikator kinerja terpimpin versus tertinggal. BSC diharapkan mencakup beberapa indikator kinerja, baik finansial dan nonfinansial yang digunakan untuk mengevaluasi proposal investasi modal. Akuntansi memiliki peran khusus dalam proses ini sebagai pelaksana dan secara berkala meringkas metrik kinerja, baik finansial dan nonfinansial-termasuk dalam BSC perusahaan.
Dalam hal ini kita mengenal model keputusan multikriteria (multicriteria decision models), yang mencakup lebih dari satu kriteria keputusan tunggal (seperti tingkat pengembalian setelah pajak,atau proyek arus kas masa depan). Salah satu model keputusan multikriteria yang populer adalah proses hierarki analitis. Proses hierarki analitis (analytical  hierarchy process- AHP) adalah suatu teknik keputusan multikteria yang dapat mengkombinasikan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif dalam evaluasi keseluruhan alternatif kebijakan. AHP mengatur masalah menjadi lebih kecil dan bagian yang lebih kecil kemudian digunakan sebagai perbandingan berpasangan sederhana dalam mengembangkan hierarki preferensi pembuat keputusan. Hierarki ini kemudian dimanipulasi untuk menghasilkan metriks akhir yang mewakili seluruh prioritas alternatif yang berhubungan. Seseorang kemudian dapat membuat keputusan logis berdasarkan perbandingan berpasangn yang dibuat diantara alternatif keputusan (misalnya, pilihan penganggaran modal) dan berbagai kriteria yang digunakan untuk tujuan pengambilan keputusan (seperti mutu, arus kas, dampak pada crita merek, dan masa pengembalian.AHP memungkinkan manajer untuk mempertimbangkan faktor berwujud maupun tidak berwujud ketika membangun hierarki keputusan, yang memungkinkan manajer untuk menghubungkan strategi dengan kebijakan penganggaran modal. Hal ini akan memastikan bahwa keputusan didasarkan pada lebih dari sekedar masalah keuangan atau karakteristik kuantitatif lain dari investasi modal yang diusulkan. Akuntan dapat menambahkan nilai proses pengembalian keputusan dengan menyediakan informasi yang akurat dan berpartisipasi dalam proses perbandingan berpasangan.
5
Selain AHP, pendekatan keputusan multikriteria lain mencakup model penilaian dan teori kegunaan multi-atribut (multi-attribute utilities theory- MAUT). Keunggulan AHP dari pada alternatif ini adalah sebagai berikut :
a.       Tidak seperti model penilaian, AHP menggunakan proses pengukuran skala rasio yang menghasilkan hasil skala rasio.
b.      Perbandingan berpasangan merupakan cara alami untuk memunculkan preferensi pengmbil keputusan (tidak seperti penggunaan undian dalam MAUT).
c.       Tidak seperti scoring model dan MAUT, AHP memungkinkan adanya beberapa inkonsistensi penilaian.
d.      Berbeda dengan MAUT, AHP tidak memerlukan penentuan fungsi pengukuran.
e.       AHP mudah digunakan-pada kenyataannya, ada banyak publikasi akun yang sukses diaplikasikan dalam berbagai konteks keputusan.
c.       Generasi Data Keuangan Relevan untuk Tujuan Pengambilan Keputusan
Informasi keuangan yang relevan untuk pengambilan keputusan sebagai biaya masa depan atau pendapatan yang berbeda diantara alternatif-alternatif keputusan. Bagian data keuangan yang relavan dengan keputusan penganggaran modal adalah konsekuensi penghasilan pajak dari pengeluaran modal yang diusulkan. Penghematan  pajak akibat pemotongan depresiasi sangat penting dalam analisis pembelanjaan modal. Peraturan pajak penghasilan yang berkaitan dengan penggunaan, akuisisi, dan penjualan aset inventasi sangat kompleks. Dengan demikian, akuntansi dapat menambah nilai dengan memastikan bahwa semua item yang berhubungan dengan pajak relavan, khususnya pengurangan depresiasi, termasuk sebagai baagian dari informasi yang diberikan kepada manajer untuk tujuan penganggaran modal.
d.      Pasca-Audit
Akuntan juga dapat menambahkan nilai pada tahap akhir dari proses penganggaran modal. Penggunaan pasca-audit dalam keputusan penganggaran modal sangat penting dalam investasi yang lebih luas dalam jangka panjang, dan investasi dalam teknologi manufaktur baru. Audit untuk investasi tersebut harus mencakup analisis dari hasil arus kas maupun manfaat operasi, seperti perkiraan perbaikan dalam fleksibilitas produksi atau peningkatan dalam waktu siklus produksi. Manfaat spesifik berikut ini berhubungan dengan pengeluaran modal pasca-audit:
a.      
6
Audit semacam ini membantu menjaga proyek pada targetnya, misalnya    membatasi kemampuan manajer dalam mengalihkan dana proyek (tanpa otoritasi) untuk penggunaan lainnya.
b.      Pasca-audit memberikan mekanisme formal (timbal balik) untuk menentukan apakan proses yang sedang berjalan harus dilanjutkan, diperluas, atau dihentikan. Oleh karena itu, pasca-audit memberikan informasi bberharga yang dapat digunakan untuk memperbaiki masalah sebelum sebuah investasi mengalami kerusakan.
c.       Proses melakukan pasca-audit membantu meningkatkan mutu proposal investasi di masa depan; karena manajer tahu bahwa hasil proyek akan dievaluasi, ada insentif bagi manajer untuk membuat estimasi yang akurat dari pada sekadar menyajikan perkiraan yang terlalu optimis dalam upaya mendapatkan persetujuan proyek.
d.      Umpan balik dari pasca-auidit memungkinkan manajemen puncak untuk mengidentifikasi bias manajer individual, informasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses penganggaran modal di masa depan.
Kesulitan (atau masalah) yang berhubungan dengan melakukan investasi modal pasca-audit pada umumnya adalah sebagai berikut :
a.       Masalah perusahaan, misalnya kurangnya personel yang berkualitas untuk melakukan audit dan ketidaksukaan personel yang diaudit.
b.      Masalah ekonomi, misalnya biaya melakukan audit itu sendiri.
c.       Masalah teknis, misalnya ketidakmampuan sistem akuntansi untuk menghasilakan informasi yang dibutuhkan dalam melaksanakan audit atau ketidakmampuan untuk mengidentifikasi keuntungan yang berasal dari investasi tertentu.

2.3  IDENTIFIKASI DATA ARUS KAS RELEVAN UNTUK ANALISIS PEMBELANJAAN MODAL

7
Data untuk mengevaluasi konsekuensi keuangan terkait proposal investasi-modal berbeda dengan data yang digunakan untuk menyiapkan laporan keuangan perusahaan. Data yang bertumpu pada data arus kas perkiraan, sementara yang disebut kedua bertumpu pada pengunaan jumlah akuntansi krual. Pendapatan akuntansi berbasis akrual ditentukan berdasarkan prinsip kesesuaian. Dengan demikian, manajer berusaha untuk menggunakan model keputusan penganggaran modal yang a). berfokus pada jumlah arus kas, dan b) mempertimbangkan nilai waktu uang.
2.3.1        Arus Kas sebuah kerangka kerja Analisis
Struktur berikut dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi financial yang relevan dengan keuangan dan berhubungan dengan modal investasi proyek yang diusulkan, sebagai berikut:
1.      Inisiasi proyek-arus kas pada titik ini meliputi:
-          Arus kas keluar, mencakup biaya instalasi, untuk memperoleh investasi dan untuk memulai operasi (misalnya, biaya pelatihan karyawan dan biaya pengujian mesin).
-          Komitmen-komitmen kas untuk peningkatan modal kerja neto(yaitu asset lancer-kewajiban lancer)
-          Arus kas masuk atau keluar, setelah dikurangi pajak, terkait penjualan asset yang diganti.
2.      Operasi proyek- arus kas operasi selama tahap operasi dari investasi modal meliputi berikut ini:
-          Arus keluar untuk biaya operasi dan, dalam beberapa kasus, investasi modal tambahan setelah pengeluaran awal.
-          Komitmen untuk tambanhan modal kerja neto yang diperlukan dalam mendukung operasi.
-          Arus masuk kas(atau pengurangan biaya operasional tunai) yang dihasilkan oleh investasi, dan uang tunai dilepaskan dari pengurangan modal kerja neto.
3.      Pembuangan proyek-pembuangan arus kas pada proyek mencakup:
-          Arus kas masuk atau keluar, setelah dikurangi pajak, terkait pelepasan investasi tersebut.
-          Arus kas masuk dari pengurangan / pelepasan modal kerja neto.



8
 
2.4             ARUS KAS TERDISKONTO MODEL KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL
Model Keputusan penganggaran modal terbagi menjadi dua bagian yaitu model arus kas terdiskonto dan model non DCF. Pada model arus kas terdiskonto mempresentasikan keputusan penganggaran modal yang memadukan nilai sekarang dari arus kas masa depan atau disebut dengan Discounted Cash Flow (DCF). Sedangkan pada model Non DCF dalam penganggaran modal merupakan model yang tidak berbasis nilai sekarang dari arus kas masa depan.
1.      Model DCF
ð  Menentukan Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto merupakan istilah umum yang mengacu pada kurs yang digunakan dalam penganggaran modal untuk mengkonversi arus kas masa depan dengan dasar nilai sekarang. Dalam mengevaluasi investasi modal, model DCF secara eksplisit mempertimbangkan nilai waktu uang. Penganggaran modal tingkat diskonto dijadikan sebagai biaya modal rata-rata tertimbang ( Weighted Average Cost of Capital_WACC). Risiko aset dan operasi perusahaan yang ada, WACC digunakan untuk mengevaluasi risiko rata-rata proyek investasi. Untuk penganggaran modal tingkat diskonto , tingkat rintangan merupakan tingkat minimum yang dapat diterima pada laba atas investasi yang disebut sebagai tingkat pengembalian.
ð  Memperkirakan WACC
Secara  umum WACC ( Weighted Average Cost of Capital )  merupakan tingkat diskonto yang sesuai untuk  digunakan dalam arus kas masa depan terkait proyek – proyek “berisiko”. WACC dapat ditetapkan sebagai tingkat pengembalian yang diperkirakan akan dituntut oleh para  investor pada portofolio yang terdiri atas semua sekuritas  perusahaan. Bobot dalam menentukan WACC didasarkan pada struktur modal perusahaan , yaitu gabungan utang dan modal, dinyatakan dengan istilah nilai pasar.


1.     
9
Biaya Utang Setelah Pajak
Biaya utang setelah pajak digunakan untuk menentukan beban yang melekat pada masing- masing jenis sekuritas (termasuk instrument utang). Sehingga perlu adanya perkiraan hasil saat ini /hasil jatuh tempo.
2.      Biaya Ekuitas Umum
Pengembalian yang disesuaikan dengan risiko diperlukan untuk menarik investor agar membeli saham biasa perusahaan. Penjelasan intuitif dari CAMP adalah bahwa tingkat pengembalian saham yang diharapkan adalah fungsi dari dua faktor yaitu tingkat bebas risiko saat kembali dan premi risiko pasar yang sama.
3.      Biaya saham yang Diinginkan
Biaya dari saham yang diinginkan secara konseptual sama dengan hasil terkini yaitu permintaan saham pemegang yaitu investor atau disebut juga sebagai hasil dividen pada saham atas nama.
2.      Model Keputusan Nilai Sekarang Bersih
Model  Nilai Sekarang Bersih atau Net Present Value (NPV) mendiskontokan seluruh arus kas pada tingkat biaya modal proyek dan kemudian menjumlahkan arus-arus kas tersebut. Proyek akan diterima jika NPV-nya positif sehingga proyek menambah nilai pemegang saham.
a.       Menentukan Arus Kas Masuk Neto yang Sama
Beberapa proyek pembelanjaan modal yang ditandai dengan pengeluaran investasi pada tahun 0 diikuti anuitas yaitu kesamaan aliran arus kas masa depan.
1.      Metode 1 : Tabel Anuitas è Untuk mengonversikan aliran arus kas masa depan kembali ke nilai sekarang.  Perhitungan ini berdasarkan tabel NPV yang terdiri dari masa periode yang diharapkan dan jumlah presentasi yang yan ditentukan.
2.      Metode 2 : Formula Excel è Dengan menggunakan fungsi built-in dalm excel untuk memperkirakan proyek NPV.
b.      Metode NPV dengan Arus Kas Masuk yang Tidak Sama
10
 
3.    Model Keputusan Tingkat Pengembalian Internal (IRR)
Tingkat pengembalian Internal atau Internal Rate of Return (IRR) menunjukkan perkiraan tingkat (ekonomis) sesungguhnya dari laba atas investasi. Secara matematik IRR didefinisikan dalam pengambilan keputusan yaitu jika melebihi tingkat diskonto perusahaan maka investasi diterima.
4.    Metode IRR yang dimodifikasi (MIRR)
Metode NPV dan IRR akan menghasilkan keputusan penerimaan / penolakan yang sama untuk proyek-proyek yang independen, tetapi jika proyek-proyek tersebut saling eksklusif, maka dapat terjadi konflik peringkat. Jika terjadi konflik peringkat, maka sebaiknya menggunakan metode NPV. Metode NPV dan IRR lebih unggul daripada metode pembayaran kembali, tetapi NPV lebih unggul dari IRR, karena NPV berasumsi arus kas akan diinvestasikan  kembali pada tingkat biaya modal perusahaan , sedangkan IRR berasumsi arus kas akan diinvestasikan kembali pada tingkat IRR proyek. Investasi kembali pada tingkat biaya modal umumnya adalah asumsi yang lebih baik karena lebih mendekati kenyataan.
Metode IRR yang dimodifikasi memperbaiki masalah yang terdapat dalam IRR biasa. MIRR melibatkan perhitungan nilai akhir (TV) dari arus kas masuk yang dimajemukkan pada tingkat biaya modal perusahaan dan kemudian menentukan tingkat diskonto yang memaksa nilai sekarang TV menjadi sama dengan nilai sekarang arus kas keluar.
5.      Perbandingan Metode NPV dan IRR
Pada  dasarnya  model NPV dan IRR mengarah pada kesimpulan yang sama, dimana keputusan terbatas pada menerima atau menolak proyek investasi. Hal ini menimbulkan beberapa kendala antara lain 1) masalah IRR ganda , 2) memilih di antara proyek yang sama – sama eklusif, 3)  penganggaran  modal dalam situasi penjatahan modal.  Sehingga dalam teori keuangan modern pada umumnya berpendapat jika lebih mudah menggunakan NPV kecuali dalam hal penjatahan modal berdasarkan keuntungan relative.
11
 
2.5              KETIDAKPASTIAN DAN PROSES PENGANGGARAN MODAL

Perkiraan dari variabel input kunci (seperti tingkat diskonto, daur hidup proyek yang diusulkan, arus kas setelah pajak terkait proyek) dan ciri alamiah di masa depan (misalnya ekonomi baik VS buruk, harga minyak/energi yang tinggi VS rendah) adalah subyek utama ketidakpastian, dan makin panjang jangka waktu investasi, makin besar ketidakpastian mengenai perkiraan ini. Akuntan manajemen perlu memahami pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi ketidakpastian ini, yaitu dengan melakukan analisis sensitivitas sebagai bagian dari proses penganggaran dan memasukkan opsi riil ke dalam analisis investasi yang diusulkan.
Analisis sensitivitas merupakan proses untuk secara selektif memvariasikan variabel input kunci, misalnya tingkat diskonto, untuk mengidentifikasi kisaran dimana keputusan penganggaran modal dapat dianggap valid.
Tiga jenis analisis sensitivitas :
a.      Analisis What-If
Analisis what-if  adalah pendekatan dasar untuk melihat pengaruh independen pada variabel-variabel tunggal. Pada kenyataannya, variabel yang dimasukkan dalam model NPV mungkin terkait satu sama lain. Artinya, perubahan dalam satu variabel (misalnya variabel biaya) mungkin terkait dengan perubahan pada variabel lain (misalnya biaya tetap). Pengaruh seperti hubungan di antara tidak dapat ditangkap dengan menggunakan analisis what-if, yang hanya melihat pada efek dari perubahan satu variabel pada suatu waktu. Singkatnya, ada batasan-batasan teknis untuk seberapa jauh Anda dapat mengambil analisis sensitivitas jenis ini.
b.      Analisis Skenario
12
Para pengambil keputusan mungkin tertarik pada bagaimana proyek investasi yang diusulkan akan menampilkan perbedaan kombinasi variabel, yang disebut skenario. Analisis skenario adalah bentuk analisis sensitivitas yang tidak hanya terlihat pada profitabilitas proyek (misalnya menunjukkan NPV perusahaan) yang sesuai dengan satu atau lebih skenario yang masuk akal. Analisis skenario memungkinkan manajer menguji efek dari skenario yang berbeda dan digambarkan sebagai efek gabungan dari himpunan variabel yang terkait dalam model NPV. Skenario ini dikembangkan melalui penggunaan tim lintas fungsional dalam perusahaan.
c.       Simulasi Monte Carlo
Analisis skenario hanya menghasilkan satu nilai output (misalnya perkiraan NPV) untuk seperangkat input, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk mengukur probabilitas hasil kejadian yang merupakan ukuran kunci risiko dalam model hubungan. Analisi risiko dapat ditingkatkan jika manajer mampu menghasilkan probabilitas yang diasosiasikan dengan nilai-nilai alternatif dari variabel hasil (misalnya NPV, IRR) dalam model keputusan penganggaran modal. Jadi, Simulasi Monte Carlo adalah perluasan analisis skenario dimana komputer menyediakan distribusi hasil yang keluar (misalnya NPV proyek) berdasarkan sampling dari distribusi terkait setiap variabel input dalam keputusan model.

2.5.1 Opsi Riil
Penggunaan model DCF seperti NPV, direkomendasikan sebagai metode yang lebih disukai dalam mengevaluasi proposal penganggaran modal. Model ini mengasumsikan perilaku pasif pada bagian manajemen setelah keputusan investasi dibuat. Namun pada kenyataannya, beberapa proyek investasi memiliki ciri dinamis. Opsi riil (opsi pada aset riil) merepresentasikan fleksibilitas atau kesempatan pertumbuhan yang ada pada proyek investasi modal. Dalam konteks ini, aset riil merupakan investasi harta berwujud (misalnya fasilitas manufaktur baru) dan harta tidak berwujud (misalnya sistem informasi baru). Model keputusan penganggaran modal tradisional seperti model DCF, tidak secara eksplisit memasukkan pilihan pada aset riil yang mungkin tertanam dalam investasi yang diusulkan.
13
Terdapat empat jenis umum opsi riil: (1) opsi untuk memperluas investasi, (2) opsi untuk meninggalkan proyek berdasarkan informasi baru, (3) opsi untuk menunggu dan mempelajari sebelum berinvestasi, (4) opsi untuk menghitung kembali besarnya proyek. Topik opsi riil perlu dibahas karena tecakup dalam di proses penganggaran modal yang menyediakan kesempatan tambahan untuk menangani risiko dan ketidakpastian. Opsi riil dapat mengubah perkiraan arus kas proyek dan risiko, dan untuk alasan ini harus secara resmi dipertimbangkan dalam analisis proyek investasi modal.
  1. Memasukkan Opsi Riil dalam Proses Penganggaran Modal
Ada dua pendekatan untuk memasukkan opsi riil dalam analisis proyek investasi jangka panjang, yaitu penggunaan analisis skenario yang dikombinasikan dengan cabang-cabang keputusan dan penggunaan model penentuan opsi harga.
  1. Faktor-faktor Penentu Nilai Opsi Riil
Sebagai anggota tim pengambil keputusan yang mengevaluasi proposal penganggaran modal, akuntan harus memiliki beberapa pengetahuan tentang faktor-faktor pengendali atau penentu nilai untuk opsi riil sebagai berikut :
1.      Ceteris Paribus, nilai opsi riil lebih tinggi jika nilai aset relatif tinggi terhadap harga pelaksanaan opsi (untuk XYZ, perkiraan nilai aset $99.890.000, sedangkan harga pelaksanaan proyek tersebut adalah $100 juta).
2.      Makin jauh jaraknya dari tanggal kadaluarsa, makin tinggi nilai pilihan. (Periode dengan daur hidup satu tahun dalam kasus XYZ mungkin dianggap panjang).
3.      Nilai dari opsi meningkat seiring peningkatan proyek. (Dalam kasus XYZ, niliai pilihan penundaan meningkat seiring meningkatnya volatilitas pengembalian proyek. Pada dasarnya, ketika pengembalian proyek dianggap beresiko, ada nilai yang lebih besar dalam menunda keputusan sampai tingkat permintaan konsumen terungkap, atau setidaknya nampak lebih baik. Karena itu, opsi penundaan yang tersedia untuk XYZ memberikan nilai kepada perusahaan dalam hal yang berurusan dengan risiko proyek.

2.6 MODEL KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL LAINNYA

2.6.1        Periode Pembayaran Kembali
14
Periode pembayaran kembali (payback period) suatu investasi adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk akumulasi arus kas masuk setelah pajak dari investasi untuk memulihkan pengeluaran awal investasi. Pada saat investor telah memulihkan jumlah uang yang diinvestasikan dalam proyek, maka itulah masa periode pembayaran kembali.
  1. Menentukan Periode Pembayaran Kembali dengan Arus Kas Masuk Tahunan yang Sama
Untuk investasi yang memberikan arus kas setelah pajak masa depan yang seragam, periode pembayaran kembali (dalam tahun) dapat ditentukan sebagai berikut :
Periode pembayaran kembali = Jumlah modal investasi awal/Arus kas masuk setelah pajak tahunan
Sebagai contoh, misalkan sebuah pengeluaran modal investasi awal (tahun 0) sebesar $ 1.110.000. Proyek ini diproyeksikan untuk memiliki daur empat tahun. Setiap tahun, investasi diharapkan dapat memberikan pemasukan setelah pajak tunai sebesar $387.000. berdasarkan informasi ini, proyek memiliki periode pembayaran kembali 2,87 tahun (misalnya $1.110.000/$387.000)
  1. Menentukan Periode Pembayaran Kembali dengan Arus Kas Masuk Tidak Sama (Contoh Mendoza Company)
  2. Evaluasi Model Periode Pembayaran Kembali
Kelebihan utama dari model periode pembayaran kembali adalah setelah data arus kas telah dikumpulkan, periode pembayaran kembali mudah untuk dihitung dan dipahami. Lama periode kembali dapat berfungsi sebagai suatu ukuran kasar dari risiko terkait investasi yang diusulkan. Makin lama periode pembayaran kembali, proyek tersebut maskin berisiko. Logika yang mendasarinya adalah bahwa makin jauh periode pembayaran kembali, makin banyak ketidakpastian terkait arus kas masa depan.
Keterbatasan penggunaan informasi periode pembayaran kembali untuk pengambil keputusan investasi memiliki empat keterbatasan utama, yaitu sebagai berikut.
1.    Model ini gagal memperhitungkan pengembalian selama daur hidup investasi
2.    Periode pembayaran kembali, dalam keadaan yang tidak disesuaikan, mengabaikan nilai waktu uang
3.    Kriteria keputusan untuk menerima atau menolak proyek tidak didenfinisikan dengan baik, alias subjektif
4.    Penggunaan model dapat mendorong investasi yang berlebihan dalam proyek-proyek jangka pendek, pada biaya investasi yang penting bagi keberhasilan jangka panjang.

15
 

  1. Payback Period Nilai Sekarang (Diskonto)
Investasi adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk nilai sekarang kumulatif dari arus kas setelah pajak untuk memulihkan pengeluaran awal investasi.
Beberapa perusahaan menggunakan nilai sekarang dari arus kas masa depan untuk menentukan jangka waktu laba atas investasi. Karena arus kas harus terdiskonto digunakan, waktu pengembalian modal yang dihasilakan disebut sebagai periode pembayaran kembali nilai sekarang (present value payback). Seperti model NPV, nilai sekarang dari arus kas masa depan setelah pajak dari investasi diestimasi menggunakan WACC perusahaan (atau tingkat rintangan).
Karena mempertimbangkan nilai waktu uang, model pembayaran kembali nilai sekarang dianggap unggul jika dibandingkan dengan model periode pembayaran kembali yang tidak disesuaikan. Karena mengandalkan penggunaan arus kas terdiskonto, model payback versi ini memiliki implikasi penting: Jika periode pembayaran kembali diskonto kurang dari daur hidup proyek, maka proyek memiliki NPV positif. Hal ini berlaku karena arus kas masuk bertambah sampai dengan periode pembayaran kembali menurut definisinya, cukup (dalam arti nilai sekarang) untuk menutup pengeluaran investasi awal;arus uang tunai yang datang setelah periode cut-off akan memastikan NPV positif untuk proyek tersebut.
Namun model payback diskonto memiliki kelemahan yang sama dengan model payback yang tidak disesuaikan dalam hal-hal; penggunaan model untuk pengambilan keputusan penganggaran modal dapat memotivasi investasi yang berlebihan dalam proyek-proyek jangka pendek; model pengabaikan laba atas investasi di luar periode pembayaran kembali (diskonto); dan kriteria keputusan dalam model ini tidak diatur secara objektif, yaitu periode cut-off untuk menentukan penerimaan proyek yang ditetapkan oleh trial and error. Keterbatasan yang kedua sangat penting karena dapat menyebabkan para manajer untuk menolak beberapa NPV peluang investasi yang positif.

2.6.2        Akuntansi (Buku) Tingkat Pengembalian
16
Akuntansi (Buku) tingkat pengembalian dalam sebuah proyek sama dengan beberapa ukuran laba akuntansi untuk beberapa ukuran investasi dalam proyek. Salah satu spesifikasi ARR adalah :
ARR = Rata-rata pendapatan operasional bersih tahunan/rata-rata investasi
Bahwa ada perbedaan dalam praktik bagaimana pembilang dan penyebut ARR didefinisikan. Artinya, ada lebih dari satu cara untuk menghitung. Salah satu cara untuk mendefinisikan ARR ini adalah mengambil rata-rata sederhana dari nilai buku investasi di awal dan di akhir daur hidup proyek dan menambah jumlah tersebut dengan investasi tambahan rata-rata modal kerja neto dari arus kas setelah pajak diterima pada tahun ke-0 dari penjualan aset yang ada.
  1. Evaluasi Model Akuntansi (Buku) Tingkat Pengembalian
Keuntungan Sebagian besar model akuntansi (buku) tingkat pengembalian atau ARR menggunakan jenis data yang sama biasanya diciptakan untuk tujuan pelaporan keuangan. Untuk alasan tersebut, rasio ini disebut tingkat pengembalian akuntansi. Dengan demikian, penggunaan ARR untuk tujuan penganggaran modal akan konsisten dengan cara kinerja keuangan berikutnya biasanya diukur.
ARR memiliki keuntungan tambahan dibanding model periode pembayaran kembali di mana ARR mempertimbangkan pengembalian keuangan (misalnya peningkatan laba usaha setelah pajak) selama daur hidup proyek.
Keterbatasan seperti halnya model periode pembayaran kembali, model keputusan ARR mengabaikan nilai waktu uang. Keterbatasan lainnya berkaitan dengan penggunaan angka akuntansi pada pembilang dan penyebut. Sementara angka tersebut berguna untuk tujuan pelaporan keuangan, teori keuangan mengatakan kepada kita bahwa informasi arus kas lebih baik untuk membuat keputusan pengganggaran modal. Pada dasarnya, penggunaan model keputusan DCF sejalan dengan proses keputusan internal yang secara teori digunakan investor dalam penilaian saham di pasar keuangan.
Akhirnya, seperti halnya kasus model periode pembayaran kembali (dan dalam hal ini, model payback diskonto juga), tidak ada kriteria objektif atas keputusan yang ditetapkan untuk membuat proyek keputusan penerimaan. Apakah yang dimaksud dengan ARR yang diterima? Tanggapan tersebut ditentukan secara heuristik (yaitu, secara subjektif menggunakan aturan praktis)



17
 
BAB 3
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Keputusan penganggaran modal merupakan komitmen jangka panjang dari sejumlah besar sumber daya. Dengan demikian keputusan ini menjadi perhatian strategis untuk perusahaan. Anggaran modal adalah komponen kunci dari sistem perencanaan keseluruhan perusahaan. Akuntan dapat menambahkan nilai pada proses penganggaran modal dari suatu perusahaan dengan setidaknya tiga cara, yaitu: (1) pengembangan informasi finansial dan nonfinansial yang relevan untuk pengambilan keputusan, (2) desain mekanisme pasca-audit yang efektif, (3) mendidik pemilik usaha kecil pada nilai dan keunggulan konseptual model keputusan DCF (model keputusan penganggaran modal tradisional). Secara umum, manajer dapat mengoptimalkan anggaran modal perusahaan dengan menggunakan model keputusan NPV, yang membandingkan nilai sekarang dari arus kas masuk dengan nilai sekarang dari arus kas keluar.

3.2  SARAN

            Dari pembahasan materi tentang analisis dan investasi modal di atas ada beberapa saran bagi perusahaan, yaitu :
1.      Perusahaan dapat mencurahkan sejumlah besar modalnya untuk sebuah proyek investasi yang diharapkan memberikan manfaat masa depan dalam beberapa tahun.
2.      Sebaiknya perusahaan merencanakan investasi modal dengan baik agar perusahaan dapat mengembangkan profitabilitas, mendapatkan kembali atau memperluas pangsa pasar, merespons perubahan iklim bisnis, mengurangi biaya, meningkatkan kualitas dan memperkuat proses strategis bisnis di seluruh mata rantai nilai perusahaan.
3.      Keputusan investasi modal harus mendukung landasan strategis perusahaan.

18
 


DAFTAR PUSTAKA

19
Blocher,dkk. 2011. Manajemen Biaya Penekanan Strategis. Jakarta: Salemba Empat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar