Minggu, 23 November 2014

Tugas Resume Analisis Laporan Keuangan “Analisis Rasio Keuangan”





Description: C:\Users\persona\Downloads\unnes.jpg


Tugas Resume Analisis Laporan Keuangan
“Analisis Rasio Keuangan”


Disusun oleh :
1.      Tutik Wulandari                               7311412080
2.      Eva Novalina Tiodora                      7311412082
3.      Satria Dwi Putra                               7311412086
4.      Dwi Wahyuningsih                           7311412091
5.      Evi Noviasari                                     7311412093
6.      Jeni Mukti Astuti                              7311412110



Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Semarang
2014




ANALISIS RASIO KEUANGAN
1.      Rasio Penggunaan Aktivitas

A.    Pengertian
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya. Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Rasio-rasio aktivitas menganggap bahwa sebaiknya terdapat keseimbangan yang layak antara penjualan dan beragam unsur aktiva misalnya persediaan, aktiva tetap dan aktiva lainnya. Aktiva yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif.

B.     Jenis- jenis Rasio Aktivitas
Yang termasuk ke dalam rasio aktivitas adalah sebagai berikut:
1.      Total Assets Turn Over (perputaran aktiva)
Total assets turn over merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu. Total assets turn over merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu (Syamsuddin, 2009:19). Total assets turn over merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain jumlah asset yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila assets turn overnya ditingkatkan atau diperbesar.
Total assets turn over ini penting bagi para kreditur dan pemilik perusahaan, tapi akan lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya penggunaan seluruh aktiva dalam perusahaan. Total assets turn over dihitung sebagai berikut:
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDiVBBkFTQtA0xH_MuIXxUFybl_iQqgpR6F5w4B5uqtDH2inhnoe3C4MRPmppsCqLEHJSa5uKNFYY59EmH7KDYoYfgJaPI9_Unv-Sm8-dRJhoQJhxaGJsYsAS_c-087ye_pYEvgDN0Se8/s1600/Total+assets+turn+over.jpg

2.      Rasio Perputaran Modal Kerja
Perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan dengan modal kerja bersih. Dimana modal kerja bersih adalah aktiva lancar dikurangi utang lancar. Perputaran modal kerja merupakan rasio mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar serta menunjukkan banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja (Sawir, 2009:16). Working capital turn over merupakan kemampuan modal kerja (neto) berputar dalam suatu periode siklus kas (cash cycle) dari perusahaan (Riyanto, 2008:335). Modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha.periode perputaran modal kerja (working capital turn over period) dimulai dari saat dimana kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai dimana saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode tersebut berarti makin cepat perputaran atau makin tinggi perputarannya (turn over rate-nya). Berapa lama periode perputaran modal kerja adalah tergantung berapa lama periode perputaran dari masing-masing komponen dari modal kerja tersebut. Perputaran modal kerja dihitung dengan rumus:

Description: Perputaran modal kerja
3.      Rasio Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap. Fixed assets turn over mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap (Sawir, 2003:17). Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Kalau perputarannya lambat (rendah), kemungkinan terdapat kapasitas terlalu besar atau ada banyak aktiva tetap namun kurang bermanfaat, atau mungkin disebabkan halhal lain seperti investasi pada aktiva tetap yang berlebihan dibandingkan dengan nilai output yang akan diperoleh. Jadi semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut. Perputaran aktiva tetap dihitung dengan rumus:
Description: Perputaran aktiva tetap
4.      Rasio Perputaran Persediaan
Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk adanya overstock (Riyanto, 2008:334). Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen mengontrol modal yang ada pada persediaan. Ada dua masalah yang timbul dalam perhitungan dan analisis rasio perputaran persediaan. Pertama, penjualan dinilai menurut harga pasar (market price), persediaan dinilai menurut harga pokok penjualan (at Cost), maka sebenarnya rasio perputaran persediaan (at cost) digunakan untuk mengukur perputaran fisik persediaan. Sedangkan rasio yang dihitung dengan membagi penjualan dengan persediaan mengukur perputaran persediaan dalam kas (Sawir, 2003:15). Namun banyak lembaga penelitian rasio keuangan yang menggunakan rasio perputaran persediaan (at market) sehingga bila ingin dibandingkan dengan rasio industri rasio perputaran persediaan (at market) sebaiknya di gunakan. Kedua, penjualan terjadi sepanjang tahun sedangkan angka persediaan adalah gambaran keadaan sesaat. Oleh karena itu, lebih baik menggunakan rata-rata persediaan yaitu persediaan awal ditambah persediaan akhir dibagi dua. Rasio perputaran persediaan dihitung dengan rumus:
Description: Rasio perputaran

5.      Rata- Rata Umur Piutang
Rasio ini mengukur efisiensi pengolahan piutang perusahaan, serta menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk melunasi piutang atau merubah piutang menjadi kas. Rata-rata umur piutang ini dihitung dengan membandingkan jumlah piutang dengan penjualan perhari. Dimana penjualan perhari yaitu penjualan dibagi 360 atau 365 hari. Rata-rata piutang ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Description: Rata-rata umur piutang

6.      Perputaran Piutang
Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungn yang erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan piutang rata-rata. Perputaran piutang dapat diukur dengan rumus :
Description: Perputaran Piutang
Makin tinggi rasio (turnover) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut, mungkin karena bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif atau mungkin ada perubahan dalam kebijak sanaan pemberian kredit.

2.      Rasio-rasio Kondisi Keuangan
Rasio-rasio ini dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari  aspek waktu tertentu:
a.       Posisi keuangan (Aset, Neraca, dan Ekuitas)
b.      Hasil Usaha Perusahaan (Hasil atau Beban)
c.       Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya.
d.      Solvabilitas
e.       Aktivitas, rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber dananya.
f.       Rentabilitas atau Profitabilitas, rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan-keputusan.
g.      Indikator Pasar Modal

3.      Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen menurut Martono dan D. Agus Harjito (2000: 253) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Menurut Dr. Dermawan Sjahrial, M.M. (2002: 305), perusahaan akan tumbuh dan berkembang, kemudian pada waktunya akan memperoleh keuntungan atau laba. Dari seluruh laba yang diperoleh perusahaan sebagian dibagikan kepada pemegang saham berupa dividen. Mengenai penentuan besarnya dividen yang akan dibandingkan itulah yang merupakan kebijakan dividen dari pimpinan perusahaan.
Beberapa pertimbangan manajer dalam pembayaran dividen antara lain :
1.      Kebutuhan dana bagi perusahaan
Semakin besar kebutuhan dana perusahaan berarti semakin kecil kemampuan untuk membayar dividen. Penghasilan perusahaan akan digunakan terlebih dahulu untuk memenuhi dananya baru sisanya untuk pembayaran dividen.
2.      Likuiditas perusahaan
Likuiditas perusahaan merupakan salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan dividen. Karena dividen merupakan arus kas keluar, maka semakin besar jumlah kas yang tersedia dan likuiditas perusahaan, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Apabila manajemen ingin memelihara likuiditas dalam mengantisipasi adanya ketidakpastian dan agar mempunyai fleksibilitas keuangan, kemungkinan perusahaan tidak akan membayar dividen dalam jumlah yang besar.
3.      Kemampuan untuk meminjam
Apabila perusahaan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan pinjaman, hal ini merupakan fleksibilitas keuangan yang tinggi sehingga kemampuan untuk membayar dividen juga tinggi. Jika perusahaan memerlukan pendanaan melalui hutang, manajemen tidak perlu mengkhawatirkan pengaruh dividen kas terhadap likuiditas perusahaan.
4.      Pembatasan-pembatasan dalam perjanjian hutang
Ketentuan perlindungan dalam suatu perjanjian hutang sering mencantumkan pembatasan terhadap pembayaran dividen. Pembatasan ini digunakan oleh para kreditur untuk menjaga kemampuan perusahaan tersebut membayar hutangnya. Apabila pembatasan ini dilakukan, manajemen tidak harus mempertanggungjawabkan penahanan laba kepada pemegang saham. Manajemen hanya perlu menaati pembatasan tersebut.
5.      Pengendalian perusahaan
Apabila suatu perusahaan membayar dividen yang sangat besar, maka perusahaan mungkin menaikkan modal di waktu yang akan datang melalui penjualan sahamnya untuk membiayai kesempatan investasi yang menguntungkan.
Sedangkan beberapa faktor yang menentukan dan mempengaruhi dalam pembuatan kebijakan dividen menurut Dr. Dermawan Sjahrial, M.M. (2002) antara lain :
1)      Posisi likuiditas perusahaan
Makin kuat posisi likuiditas perusahaan makin besar dividen yang dibayarkan.
2)      Kebutuhan dana untuk membayar hutang
Apabila sebagian besar laba digunakan untuk membayar hutang maka sisanya yang digunakan untuk membayar dividen makin kecil.
3)      Rencana perluasan usaha
Makin besar perluasan usaha perusahaan, makin berkurang dana yang dapat dibayarkan untuk dividen.
4)      Pengawasan terhadap perusahaan
Kebijakan pembiayaan: untuk ekspansi dibiayai dengan dana dari sumber intern yaitu laba. Dengan pertimbangan: apabila dibiayai dengna penjualan saham baru ini akan melemahkan kontrol dari kelompok pemegang saham dominan. Karena suara pemegang saham mayoritas berkurang.
Beberapa teori kebijakan dividen yang dikemukakan oleh Dr. Dermawan Sjahrial, M.M. (2002) antara lain :
1.      Teori dividen tidak relevan dari Modigliani dan Miller
Asumsi-asumsi pendapat ini lemah :
a)      Pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional. Kenyataannya sulit ditemui pasar modal yang sempurna.
b)      Tidak ada biaya emisi saham baru, kenyataannya biaya emisi saham baru itu masih ada.
c)      Tidak ada pajak, kenyataannya pajak pasti ada.
d)     Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah, prakteknya kebijakan investasi perusahaan pasti berubah.
2.      Teori the bird in the hand
Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri (Ks) perusahaan akan naik jika Dividend Payout Ratio (DPR) rendah karena investor lebih suka menerima dividen disbanding capital gain. Karena dividend yield lebih pasti.
3.      Teori perbedaan pajak
Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Karena adanya pajak terhadap dividend an capital gain, para investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak.
4.      Teori signaling hypothesis
Jika ada kenaikan dividen sering kali diikuti dengan kenaikan harga saham, demikian pula sebaliknya. Menurut Modigliani dan Miller kenaikan dividen biasanya merupakan suatu signal (tanda) kepada para investor, bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa mendatang. Sebliknya, suatu penurunan dividen yang dibawah normal (dari biasanya) diyakini investor sebagai pertanda bahwa perusahan menghadapi masa sulit diwaktu mendatang.
5.      Teori clientele effect
Kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan preferensi yang berbeda terhadap kebijakan deviden perusahaan. Kelompok pemegang saham yang embutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suat dividend payout ratio  (DPR) yang tinggi. Jika ada  perbedaan pajak bagi individu dapat menunda pembayaran pajak. Kelompok ini lebih sennag jika perusahaan membagi dividen yang kecil. Dengan demikian, maka kelompok pemegang saham yang dikenakan pajak lebih tinggi menyukai capital gain.
            Macam-macam pemabgian dividen, adalah sebagai berikut :
a.       Cash dividend, yaitu dividen yang dibagikan secara tunai.
b.      Property dividend , yaitu dividend yang dibagikan dalam bentuk aktiva selain kas.
c.       scrip Dividend, atau dividen utang yaitu apabila saldo kas tidak mencukupi tetapi saldo laba mencukupi untuk pembagian dividen.
d.      Liquiditing Dividend, merupakan dividen yang sebagian adalah pengemablian modal.
e.       Stock Dividend
Berikut ini merupakan beberapa pembuat pembagian deviden secara tunai kepad pemegang saham, menurut Sutrisno (2003), :
a.       Kebijakan pemberian dividen stabil, artinya dividen akan diberikan secara tetap perlembarnya untuk jangka waktu ertentu, walaupun laba yang diperoleh perusahaan berfluktuasi. Kebiajkan dividen ini banyak dilakukan oleh perusahaan, karena alasan peningkatan harga saham dan pemberian kesan tersendiri kepada para investor bahwa prospek perusahaan bagus, dan dapat menarik investor yang memanfaatkan dividen untuk keperluan konsumsi, sebab dividen sellau dibayarkan.
b.      Kebijakan dividen yang meningkat, yaitu perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang sellau meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.
c.       Kebijakan dividen dengan rasio yang konstan, yaitu besarnya pemeberian dividen mengikuti besarnya laba yang diperoleh perusahaan. Dasara yang sering digunakan dalah dividend payout ratio (DPR).
d.      Kebijakan pemberian dividen regular yang rendah ditambah ekstra, yaitu perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudaian ditambahkan ekstra dividend  bila keutungannya mencapai jumlah tertentu.
            Dalam pelaksanaannya, jadal pembayaran dividend dibagi dalam beberapa waktu, yaitu :
1.      Dividen interim
Merupakan dividend yang dibayarkan antara satu tahun buku dengan buku berikutnya, dan dapat dibayarkan beberapa kali dalam setahun. Hal ini bertujtuan untuk memacu kinerja saham di bursa.
2.      Dividen final
Adalah dividen hasil pertimbangan setelah penutupan buku perseroan pada tahun sebelumnhya yang dibayarkan pada tahun buku berikutnya.
Tangal-tanggal penting yang perlu diperhatikan dalam pembayaran deviden :
a.       Tanggal pengumuman, yang merupakan tanggal resmi pengumuman oleh emiten tentang bentuk, besar, dan jadwal pembayaran dividen.
b.      Tanggal cum-dividend, yaitu tanggal hari terakhir perdagangan saham yang masih melekat ha untuk mendapat deividen.
c.       Tanggal ex-dividend, merupakan tanggal saat perdagangan saham sudah tidak lagi melekat hak untuk memperoleh dividend. Dalam hal ini pembelian saham pada tanggal tersebutatausesudahnya tidak berhak atas deviden.
d.      Tanggal pencatatan dalam daftar pemegang saham, yaitu tanggal saat investor harus terdaftar sebagai pemegang saham perusahaan sehingga berhak atas dividen. Pendaftaran setelah tanggal tersebut tidak berhak atas dividen.
e.       Tanggal pembayaraan dimana tanggal pengambilan dividen

4.      Ukuran Pertumbuhan
Rasio Pertumbuhan (Growth Ratios), rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam persaingan dengan perusahaan lain pada industri yaug sama. Rasio pertumbuhan ditentukan dengan membagi jumlah tahun bersangkutan dengan jumlah pada tahun dasar, dimana tahun dasar dianggap sebagai 100 %.
Rasio pertumbuhan adalah pengukuran seberapa jauh perusahaan menempatkan diri dalam sistem ekonomi secara keseluruhan atau sistem ekonomi untuk industri yang sama, rasio pertumbuhan ini ditentukan dengan membagi jumlah tahun bersangkutan dengan jumlah pada tahun dasar, dimana tahun-tahun dasar dianggap sebagai 100%, menurut (Machfoedz, 1996.hal 93) rasio pertumbuhan (Growth Ratios) adalah rasio uutuk mengukur kemampuan perusahaan dalam persaingan dengan perusahaan lain pada industri yang sama.
Dalam perhitungan rasio pertumbuhan, elemen yang penting untuk dilihat pertumbuhannya adalah:
a.       Penjualan
b.      Laba bersih
c.       Laba per lembar saham
d.      Harga pasar saham per lembar 
e.       Dividen
f.       Nilai buku Saham
Elemen-elemen tersebut perlu untuk diketahui pertumbuhannya mengingat bahwa dengan mengetahui pertumbuhan setiap elemen tersebut, maka perusahaan diberikan informasi bahwa perusahaan dalam jangka waktu tertentu memperoleh pertambahan nilai tertentu, adapun rumus untuk mengukur rasio pertumbuhan yaitu dengan:
Rasio Pertumbuhan = (Xn / Xo)1/n -1
Keterangan:
Xn = Nilai terakhir.
 Xo = Nilai Dasar
 n = Jumlah Tahun
5.      Pendekatan Lain Dalam Analisis Laporan Keuangan

a.       Langkah pertama : Pengelompokkan Pengukuran dalam 3 aspek
1.            Ukuran kinerja
2.            Ukuran Efisiensi Operasi
3.            Ukuran Kebijakan Keuangan

  1. Ukuran kinerja dianalisis dalam tiga kelompok:
    1. ratio profitabilitas
    2. ratio pertumbuhan
    3. ratio Penilaian

UKURAN KINERJA/RATIOKEUANGAN


RATIO PROFITABILITAS



1. Kinerja laba operasi
    Laba Operasi Bersih (NOI)/Penjualan


               Laba Operasi Bersih
          ----------------------------
                 Penjualan


                     $ 700,8
          =    ----------------  = 15,2 %
                    $ 4.620,0
   


Kemampuan penjualan untuk menghasilkan laba bersih.

Setiap satu dollar  penjualan mampu  menghasilkan laba operasi bersih $ 0.13

2. Hasil pengembalian atas total aktiva (ROI)

Laba operasi terhadap total aktiva

               Laba Operasi Bersih
          ----------------------------
                   Aktiva


                     $ 700,8
          =    ----------------  = 20%
                    $ 3.390,4
   


Kemampuan penggunaan aktiva  untuk menghasilkan laba operasi bersih.

Setiap satu dollar  aktiva  mampu  menghasilkan laba operasi bersih    $ 0.20

3. Laba Operasi Bersih
    terhadap Total Modal

               Laba Operasi Bersih
          ----------------------------
                   Total Modal

 (Total Modal / Hutang berbeban bunga atas total modal bunga + ekuitas pemegang saham)



                     $ 700,8
          =    ----------------  = 28,2%
                    $ 2.484,0
   


Kemampuan penggunaan modal   untuk menghasilkan laba operasi bersih.

Setiap satu dollar  modal   mampu  menghasilkan laba operasi bersih    $ 0.28

4 Laba bersih terhadap penjualan / Marjin laba atas penjualan

                     Laba Bersih
          ----------------------------
                   Penjualan

                      $ 470,2
          =    ----------------  = 10,2%
                    $ 4.620,0
   


Kemampuan penjualan dalam     menghasilkan laba  bersih.

Setiap satu dollar  penjualan mampu  menghasilkan laba  bersih    $ 0.28

5. Hasil pengembalian atas equitas / Return on Equity hasil pengembalian atas equitas

                     Laba Bersih
          ----------------------------
                   Equitas pemegang saham

                      $ 470,2
          =    ----------------  = 28,8 %
                    $ 1.634,4
   

Mengukur pengembalian nilai buku kepada pemilik perusahaan.

Setiap satu dollar Equitas mampu menghasilkan laba bersih  $ 0,288
1.      Tingkat profitabilitas
Marjinal

                     Perubahan NOI
          ----------------------------
        Perubahan total modal
                      $ 237,6
          =    ----------------  = 18,4 %
                    $ 1292,1
   

Mengukur perubahan margin profitabilitas dari beberapa periode.

Margin profitabilitas dari periode (lima tahun terakhir) 18,4%
7.   Hasil pengembalian
      Marginal atas Equitas / Marginal return to equity)
                     Perubahan NI
          ----------------------------
        Perubahan equitas
                      $ 219,7
          =    ----------------  = 15,3 %
                    $ 1147,2

Marginal return to equity 15,3%
Rasio Pertumbuhan
Pertumbuhan penjualan, Laba Operasi bersih, Laba bersih, Laba per saham da dividen per saham

RATIO PENILAIAN


Rasio harga/laba
Harga pasar per saham terhadap laba per saham (price /earning ratio atau P/E ratio

             Harga pasar per saham
          ----------------------------
            Laba per saham
                      $ 69.69
          =    ----------------  = 15,9 %
                    $ 3,85
   

Semakin tinggi risiko tinggi faktor diskonto dan semakin rendah rasio P/E, semakin tinggi P/E, maka semakin bagus sebuah perusahaan.
Rasio Harga Pasar terhadap nilai Buku (market –to – book – value)

             Harga pasar per saham
          ----------------------------
            Nilai buku ekuitas
                      $ 69.69
          =    ----------------  = 5,2 %
                    $ 13,41
   

Mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh.

  1. Ukuran Efisiensi Operasi
Mengukur rasio aktivitas atau rasio perputaran adalah mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan investasi dan sumber daya ekonomis yang dimilikinya.

UKURAN KINERJA/RATIOKEUANGAN



METODE  PERHITUNGAN
INTEPRETASI

Perputaran Persediaan



               Harga Pokok Penjualan
          ----------------------------
                 Persediaan


                     $ 700,8
          =    ----------------  = 15,2 %
                    $ 4.620,0
   

Sama dengan di atas (aspek yang lain)


  1. Ukuran Kebijakan Keuangan

Mengukur sampai seberapa jauh total aktiva dibiayai oleh pemilik, jika dibandingkan dengan pembiayaan yang disediakan oleh para kreditur.

UKURAN KINERJA/RATIOKEUANGAN



METODE  PERHITUNGAN
INTEPRETASI

A. Faktor leverage



                   Total Aktiva
          ----------------------------
                    Ekuitas

                     $ 3.390
          =    ----------------  = 2,07
                    $ 1.6334,4
   

Menegukur sampai seberapa jauh investasi ekuitas pemegang saham diperbesar oleh penggunaan penggunaan hutang dalam membiaya total aktiva.
Rasio likuiditas
S DA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar